Sifat Al-Wasathiyyah dalam Perspektif Al-Qur'an
SIFAT AL-WASATHIYYAH DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Islam dan umat
islam saat ini mengalami dua tantangan; pertama, kecenderungan sebagian
kalangan umat islam untuk bersikap ekstrem dan ketat dalam memahami hukum-hukum
agama dan mencoba memaksakan cara tersebut di tengah masyarakat muslim, cara
ini pasti tidak bisa bertahan lama terutama di indonesia yang memiliki ribuan
budaya, ras dan etnis. Kedua, kecenderungan lain yang juga ekstrem
dengan bersikap longgar dalam beragama dan tunduk perilaku serta pemikiran
negatif yang berasal dari budaya dan peradaban lain, ungkap Dr. Muchlis M.
Hanafi. Kedua kecenderungan di atas di dasari kurangnya sebagian kalangan atau
individu yang di anut dalam membaca situasi dan kondisi saat ini, mereka tidak
sadar bahwa kebutaan pada perkembangan zaman justru akan membuat islam terkesan
agama yang jumud, ekslusif, dan tidak bisa sejalan dengan modernitas serta
terlalu terbuka dan muda menerima peradaban luar yang berakibat kaburnya esensi
ajaran agama itu sendiri.
Kedua sifat di
atas lambat laut akan membuat jati diri islam terhapus, islam agama yang dibawa
oleh para ulama terdahulu dengan jalan damai, memadukan ajaran islam dengan
budaya setempat, namun sama sekali tidak menghapus esensi ajaran islam.
Sehingga membuat islam dapat mudah diterima di nusantara dan menyebar dengan
begitu cepat. Namun sayangnya karakter dasar ajaran islam yang dalam QS
Al-Baqoroh ayat 143 disebut sebagai ummatan wasathan dengan pengertian
pertengahan atau lebih di kenal saat ini dengan moderat tertutupi oleh ulah
sebagian kalangan umatnya yang bersikap radikal di satu sisi dan liberal di
sisi yang lain. Keduan sisi ini tentu berjauhan dengan titik tengah (wasath).
Mungkin ada benarnya ungkapan sementara kalangan yang menyatakan Islam
tertutupi oleh umat Islam (al-Islam mahjubun bi al-muslimin)
A.
Pengertian
Al-Wasathiyyah
Secara bahasa al-wasathiyyah berasal dari kata wasath yang
memiliki makna adil, baik, tengah, dan seimbang. Posisi ini seperti yang
diungkapkan M. Qurasih Shihab dalam tafsirnya sama dengan posisi ka’bah yakni
berada di pertengahan. Posisi pertengahan menajdikan manusia tidak memihak ke
kiri dan ke kanan, suatu hal di mana dapat mengantar manusia berlaku adil,
lanjutnya. Sejalan dengan pengertian wasath yang berarti “adil”
diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri dari Rasululloh SAW.
Ada sebuah ungkapan “sebaik-baik urusan adalah awsathuha (yang
pertengahan)”. Kebanyakan sifat-sifat baik adalah pertengahan antara dua sifat
buruk, seperti sifat berani yang menengahi antara takut dan sembrono, dermawan
yang menengahi antara kikir dan boros, dan lainnya.
Kata wasath juga berarti tengah atau pertengahan, dari kata
ini lahir kata wasit dalam bahasa indonesia yang bermakna; 1) penengah;
perantara (dagangan dsb); 2) penentu; pemimpin (dalam sebuah pertandingan); 3)
pemisah; pelerai (antara yang berselisih).
B.
Al-Wasathiyyah dalam Perspektif Al-Qur’an
Dalam al-Qur’an kata wasath dan derivasinya disebut
sebanyak lima kali dengan pengertian yang sejalan dengan makna di atas. Pakar
tafsir Abu Su’ud menulis, kata wasath pada mulanya menunjuk pada sesuatu
yang menjadi titik temu semua sisi, seperti pusat lingkaran (tengah). Kemudian
berkembang maknanya menjadi sifat terpuji yang dimiliki manusia karena
sifat-sifat tersebut merupakan tengah dari sifat-sifat tercela, jelasnya dalam Irsyad
al-Aql as-Salim.
Ada juga yang memahami ummatan wasathan dalam arti
pertengahan dalam pandangan tentang Tuhan dan dunia. Hal ini di tulis oleh M.
Qurasih Shihab dalam tafsir al-Misbahnya ketika menafsirkan QS. Al-Baqoroh ayat
143. Tidak mengingkari wujud Tuhan, tetapi tidak juga menganut paham politeisme
(banyak Tuhan). Pandangan Islam Tuhan adalah Maha Wujud, dan Dia Yang Maha Esa.
Pertengahan juga adalah pandangan umat Islam tentang kehidupan dunia ini; tidak
mengingkari dan menilainya maya, tetapi tidak juga berpandangan bahwa kehidupan
dunia adalah segalanya. Pandangan Islam tentang hidup adalah di samping ada
dunia ada juga akhirat. Keberhasilan di akhirat ditentukan oleh iman dan amal
saleh di dunia. Manusia tidak boleh tenggelam dalam materialisme, tidak juga
memumbung tinggi dalam spiritualisme, ketika pandangan mengarah ke langit, kaki
harus tetap berpijak di bumi. Islam mengajarkan umatnya agar—meraih materi yang
bersifat duniawi, tetapi dengan nilai-nilai yang samawi.
Apabila al-wasathiyyah tertanam dalam benak setiap orang,
maka akan tercipta perdamaian dan keindahan di sekitar kita. Seperti yang
dilakukan wali sanga ketika menyebarkan Islam di Nusantara, mereka tidak
memaksakan masyarakat untuk langsung menerima ajaran Islam, tapi memadukan
budaya masyarakat dengan ajaran Islam dengan cara yang kreatif, sehingga Islam
dengan mudah di terima dengan jalan yang damai.
Wasatihiyyah (moderasi)
ajaran Islam tercermin, antara lain, dalam hal-hal berikut:
1.
Akidah
Selain mengajak
beriman pada yang ghaib seperti pada QS. Al-Baqoroh ayat 2-3, Islam mengajak
akal manusia untuk membuktikan ajakannya secara rasional QS. Al-Baqoroh ayat
111, demikian prinsip yang selalu diajarkannya.
2.
Ibadah
dan Syiar Agama
Islam
mewajibkan penganutnya untuk melakukan ibadah dalam bentuk dan jumlah yang
sangat terbatas, misalnya shalat lima kali dalam sehari, puasa sebulan dalam
setahun, haji sekali seumur hidup, agar selalu ada komunikasi antara manusia
dengan Tuhannya. Selebihnya, Allah mempersilakan manusia untuk berkarya dan
bekerja mencari rezeki Allah di muka bumi. Moderasi dalam peribadatan ini
tercermin sangat jelas dalam firman Allah QS. Al-Jumu’ah ayat 9-10.
3.
Akhlah
Dalam pandangan
al-Qur’an manusia terdiri dari dua unsur; ruh dan jasad QS. Shad ayat 71-72.
Kedua unsur itu memiliki hak yang harus dipenuhi. Karena itu, Rasulullah
mengecam keras sahabatnya yang di anggapnya berlebihan dalam beribadah dengan
mengabaikan hak tubuhnya, keluarga, dan masyarakatnya.
Sekian
sekelumit pembahasan tentang Al-Wasathiyyah menurut al-Qur’an, semoga
bermanfaat dan menyadarkan kita tentang pentingnya bersikap moderat terhadap
segala hal, agar perdamaian dan keindahan dapat tercipta di lingkungan kita,
serta kembalinya karakteristik Islam yang sesungguhnya sehingga tidak
menimbulkan kesalah pahaman pandangan tentang Islam oleh beberapa kelompok non-muslim.
Sumber tulisan:
Moderasi Islam,
Dr. Muchlis M.hanafi, M.A
Tafsir
al-Misbah, M. Quraish Shihab
Irsyad al-Aql as-Salim, Abu as-Su’ud

0 Response to "Sifat Al-Wasathiyyah dalam Perspektif Al-Qur'an"
Post a Comment
Silahkan komentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan, apabila ada kritik atau saran mohon disampaikan dengan sopan.