-->

BERBAKTI KEPADA ORANGTUA


BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

berbakti kepada orangtua menurut al-Quran


Dalam Al-Qur’an ditemukan istilah al-walidain sebanyak dua puluh kali. Kata ini dalah bentuk jamak dari kata walid yang biasa diterjemahkan bapak. Ada juga kata lain yang menunjuk kepada makna bapak yakni ab dan umm dalam arti ibu.

Kedua kata tersebut memiliki kekhususan tersendiri, untuk kata walid atau walidah digunakan untuk bapak atau ibu kandung, seperti firman Allah Swt “para ibu hendaklah menyusukan anak-anak mereka dua tahun sempurna, bagi yang berkehendak menyempurnakan penyusuan (QS. Al-Baqoroh: 233), pada ayat tersebut menggunakan kata al-walidat yang berarti ibu kandung. Sedangkan untuk kata ab/umm digunakan untuk bapak/ibu baik kandung atau bukan, seperti firman Allah Swt “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya.” (QS. Al-An’am: 74), karena yang dimaksud pada ayat ini bukan ayah kandung, maka kata yang digunakan bukan walidih, tetapi abih.

Ihsan kepada Orangtua


Dari dua puluh kata walidain dalam Al-Qur’an dengan berbagai bentuknya itu, ditemukan aneka perintah Allah menyangkut ibu bapak, antara lain, berbuat Ihsan dan Husn (kebaktian dan kebaikan). Al-Qur’an menggunakan kata Ihsana sebanyak enam kali, lima di antaranya dalam konteks berbakti kepada orangtua (QS. Al-Baqoroh: 83, Al-Nisa’: 36, Al-An’am: 151, Al-Isra: 23, dan Al-Ahqaf: 15), dan menggunakan kata Husn sekali (QS. Al-Ankabut: 8) untuk menggambarkan kewajiban anak kepada ibu bapaknya.

Yang dimaksud Ihsan adalah memberi lebih banyak daripada yang harus anda beri, dan mengambil lebih sedikit dari seharusnya yang anda ambil. Selanjutnya, yang dimaksud dengan Husn ialah segala sesuatu yang menggembirakan dan disenangi. Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan, maka anak berkewajiban bersikap sopan santun kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan, sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita, serta mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan kita (sebagai anak).

Seorang anak dituntut agar berbicara kepada orang tuanya dengan kata-kata yang oleh Al-Qur’an dinamai “karima.” (QS. Al-Isra: 23). Karima terdiri dari huruf-huruf Kaf, ra’, dan mim. Menurut pakar-pakar bahasa, kata ini mengandung makna yang mulia (terbaik sesuai objeknya). Bila kata Karim dikaitkan dengan akhlak terhadap orang lain, maka ia bermakna pemaafan. Ini berarti bahwa segala macam yang baik dan mulia harus menghiasi setiap kata yang diucapkan kepada kedua orangtua, bukan saja yang sifatnya benar dan tepat, bukan juga hanya yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik dalam satu masyarakat, tetapi harus yang terbaik dan termulia. Kalaupun seandainya orangtua melakukan suatu “kesalahan” terhadap anak, maka kesalahan itu harus dianggap tidak ada, di-maaf-kan karena tidak ada orangtua yang bermaksud buruk terhadap anaknya.

Al-Qur’an menggunakan kata penghubung “bi” ketika berbicara tentang bakti kepada ibu bapak. Wa bil wâlidaini ihsânâ, hal ini dikarenakan Allah Swt tidak menghendaki adanya “jarak”, walau sedikit, dalam hubungan antara anak dan orangtuanya, dari pada menggunakan kata “li” atau “ila” yang maknanya terkandung adanya jarak antara kata yang bersambung dengannya. Oleh karena itulah digunakan kata bi yang mengandung arti Ilshaq, yakni kelekatan.

Prioritas Bakti


Al-Qur’an, demikian juga Sunnah, menekankan pentingnya bakti kepada ibu-bapak, khususnya di kala mereka telah mencapai usia tua, sebab ketika itu mereka lebih membutuhkan dibandingkan sebelumnya. Di sisi lain kedua sumber Islam itu memprioritaskan bakti kepada ibu, sebelum kepada bapak. “ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu.” Demikian sabda Rasululloh Saw.
Doa Ibu kepada anaknya seperti doa Nabi kepada umatnya. Ada sebuah kisah.

Al Habib Muhammad Al Habsyi pernah disowani seorang habaib untuk dimintai doa.

Beliau berkata, “Mau apa kesini?”

“Mau minta doa.”

“Pulang!! Minta ke ibumu. Doanya lebih afdhol dari 70 wali.”

Demikianlah kewajiban anak kepada orangtuanya, terutama kepada Ibu, yang telah mengandung kita dalam keadaan lemah dan susah payah. Senangkanlah Ibu selagi kita bisa, jikalau sudah tiada, maka doakanlah minimal setiap setelah sholat maktubah.

Sekian...
   

0 Response to "BERBAKTI KEPADA ORANGTUA"

Post a Comment

Silahkan komentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan, apabila ada kritik atau saran mohon disampaikan dengan sopan.