BERBAKTI KEPADA ORANGTUA
Tuesday, January 29, 2019
Edit
BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
Dalam
Al-Qur’an ditemukan istilah al-walidain sebanyak dua puluh kali. Kata
ini dalah bentuk jamak dari kata walid yang biasa diterjemahkan bapak.
Ada juga kata lain yang menunjuk kepada makna bapak yakni ab dan umm dalam
arti ibu.
Kedua
kata tersebut memiliki kekhususan tersendiri, untuk kata walid atau walidah
digunakan untuk bapak atau ibu kandung, seperti firman Allah Swt “para
ibu hendaklah menyusukan anak-anak mereka dua tahun sempurna, bagi yang
berkehendak menyempurnakan penyusuan (QS. Al-Baqoroh: 233), pada ayat
tersebut menggunakan kata al-walidat yang berarti ibu kandung. Sedangkan
untuk kata ab/umm digunakan untuk bapak/ibu baik kandung atau bukan,
seperti firman Allah Swt “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada
ayahnya.” (QS. Al-An’am: 74), karena yang dimaksud pada ayat ini bukan ayah
kandung, maka kata yang digunakan bukan walidih, tetapi abih.
Ihsan kepada Orangtua
Dari
dua puluh kata walidain dalam Al-Qur’an dengan berbagai bentuknya itu,
ditemukan aneka perintah Allah menyangkut ibu bapak, antara lain, berbuat Ihsan
dan Husn (kebaktian dan kebaikan). Al-Qur’an menggunakan kata Ihsana
sebanyak enam kali, lima di antaranya dalam konteks berbakti kepada
orangtua (QS. Al-Baqoroh: 83, Al-Nisa’: 36, Al-An’am: 151, Al-Isra: 23, dan
Al-Ahqaf: 15), dan menggunakan kata Husn sekali (QS. Al-Ankabut: 8)
untuk menggambarkan kewajiban anak kepada ibu bapaknya.
Yang
dimaksud Ihsan adalah memberi lebih banyak daripada yang harus anda
beri, dan mengambil lebih sedikit dari seharusnya yang anda ambil. Selanjutnya,
yang dimaksud dengan Husn ialah segala sesuatu yang menggembirakan dan
disenangi. Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan, maka anak berkewajiban
bersikap sopan santun kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan, sesuai dengan
adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita, serta
mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan kita
(sebagai anak).
Seorang
anak dituntut agar berbicara kepada orang tuanya dengan kata-kata yang oleh
Al-Qur’an dinamai “karima.” (QS. Al-Isra: 23). Karima terdiri
dari huruf-huruf Kaf, ra’, dan mim. Menurut pakar-pakar bahasa,
kata ini mengandung makna yang mulia (terbaik sesuai objeknya). Bila
kata Karim dikaitkan dengan akhlak terhadap orang lain, maka ia bermakna
pemaafan. Ini berarti bahwa segala macam yang baik dan mulia harus
menghiasi setiap kata yang diucapkan kepada kedua orangtua, bukan saja yang
sifatnya benar dan tepat, bukan juga hanya yang sesuai dengan adat kebiasaan
yang baik dalam satu masyarakat, tetapi harus yang terbaik dan termulia.
Kalaupun seandainya orangtua melakukan suatu “kesalahan” terhadap anak, maka
kesalahan itu harus dianggap tidak ada, di-maaf-kan karena tidak ada orangtua
yang bermaksud buruk terhadap anaknya.
Al-Qur’an
menggunakan kata penghubung “bi” ketika berbicara tentang bakti kepada ibu
bapak. Wa bil wâlidaini ihsânâ, hal ini dikarenakan Allah Swt tidak
menghendaki adanya “jarak”, walau sedikit, dalam hubungan antara anak dan orangtuanya,
dari pada menggunakan kata “li” atau “ila” yang maknanya terkandung adanya
jarak antara kata yang bersambung dengannya. Oleh karena itulah digunakan kata bi
yang mengandung arti Ilshaq, yakni kelekatan.
Prioritas Bakti
Al-Qur’an,
demikian juga Sunnah, menekankan pentingnya bakti kepada ibu-bapak, khususnya
di kala mereka telah mencapai usia tua, sebab ketika itu mereka lebih
membutuhkan dibandingkan sebelumnya. Di sisi lain kedua sumber Islam itu
memprioritaskan bakti kepada ibu, sebelum kepada bapak. “ibumu, ibumu,
ibumu, kemudian bapakmu.” Demikian sabda Rasululloh Saw.
Doa Ibu
kepada anaknya seperti doa Nabi kepada umatnya. Ada sebuah kisah.
Al Habib
Muhammad Al Habsyi pernah disowani seorang habaib untuk dimintai doa.
Beliau
berkata, “Mau apa kesini?”
“Mau
minta doa.”
“Pulang!!
Minta ke ibumu. Doanya lebih afdhol dari 70 wali.”
Demikianlah
kewajiban anak kepada orangtuanya, terutama kepada Ibu, yang telah mengandung
kita dalam keadaan lemah dan susah payah. Senangkanlah Ibu selagi kita bisa,
jikalau sudah tiada, maka doakanlah minimal setiap setelah sholat maktubah.
Sekian...
Related Posts
