-->

PENGERTIAN WAHYU SECARA UMUM


PENGERTIAN WAHYU SECARA UMUM

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya.” (QS. An-Nisa’: 63)

Banyak sekali definisi wahyu yang di ungkapkan al-Quran, baik kepada para nabi seperti yang diungkapkan pada ayat diatas, kepada manusia, hewan, juga setan. Tentunya pengertian tersebut beragam, terganting dari konteks pembahasannya. Berikut ini akan di jelaskan definis wahyu yang diungkapkan al-Quran.

Definisi wahyu secara bahasa adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat. Bisa juga disebut sebagai ilham naluriah pada hewan sebagaimana firman Allah:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah.” (QS. An-Nahl: 68)

Wahyu yang dimaksud pada ayat ini adalah potensi yang bersifat naluriah yang dianugrahkan Allah kepada lebah sehingga secara sangat rapi dan mudah melakukan kegiatan-kegiatan serta memproduksi hal-hal yang mengagumkan. Apa yang dilakukannya tidak ubahnya seperti sesuatu yang diajarkan dan disampaikan kepadanya secara sembunyi. Dari sini, nurani yang dianugrahkan Allah itu dinamai wahyu. Demikian ungkap Quraish Shihab dalam Al-Misbahnya.

Definisi wahyu menurut agama adalah firman Allah. Yang diturunkan kepada para nabi.

Insting yang diberikan kepada manusia. Seperti wahyu yang diberikan kepada ibunda Nabi Musa as “Dan kami wahyukan kepada ibu Musa: ‘Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya. Maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS. Al-Qhashas: 7).

Yang dimaksud wahyu dalam ayat ini adalah mimpi yang dialami oleh ibu Musa, dalam mimpi tersebut dijelaskan dalam ayat di atas perintah kepada ibu Musa untuk menyusui Musa, dan apabila ia khawatir akan keselamatan Musa, dikarenakan pada zaman itu, semua orang yang melahirkan anak laki-laki akan langsung dibunuh oleh anak buah fir’aun, akhirnya ibu Musa menghanyutkannya ke sungai Nil.

Insting yang diberikan kepada binatang. Seperti firman Allah “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl: 68)

Ayat ini telah dijelaskan dimuka.

Isyarat yang disampaikan dengan cepat. Seperti firman Allah: “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu memberi wahyu kepada mereka, ‘Hendaklah kalian bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

Ayat ini masih memiliki ketersambungan dengan ayat sebelumnya. Ketika Nabi Zakariyah mendapatkan informasi dari Allah bahwa beliau akan mendapatkan keturunan. Namun, karena kondisi beliau yang sudah tua dan istrinya yang mandul, Nabi Zakariyah tidak bisa langsung menerima berita ini, bukannya tidak percaya akan kuasa Allah, tetapi karena berita ini adalah satu berita yang sungguh di luar kebiasaan. Maka Nabi Zakariyah meminta tanda agar beliau bertambah yakin dan lebih bergembira sehingga beliau dapat segera melipatgandakan kesyukuran kepada Allah. Kemudian Allah memberikan tanda kepada Nabi Zakariyah berupa dicabutnya kemampuan berbicara beliau selama tiga hari tiga malam. Sehingga ketika beliau bertemu dengan kaumnya, beliau hanya memberi isyarat tanpa berkata-kata.

Pemberitahuan Allah kepada para Malaikat. Seperti firman-Nya: “Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman.” (QS. Al-Anfal: 12)

Yang dimaksud wahyu dalam ayat ini adalah perintah Allah kepada para malaikat untuk ikut membantu para pejuang perang badr. Dan Allah meyakinkan Nabi Muhammad, bahwa siapa saja yang ditemani-Nya pasti akan menang.

Bisikan setan. Seperti tersebut dalam firman Allah: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka mewahyukan (membisikkan) kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112).

Wahyu yang dimaksud dalam ayat ini adalah bisikan setan kepada sebagian setan manusia atau setan jin yang lain berupa kata-kata yang indah untuk tujuan menipu siapa yang taat kepada Allah.

Perkataan Allah kepada manusia. Untuk manusia-manusia yang dipilih oleh Allah yaitu dengan cara wahyu, di balik tabir, atau dengan mengutus malaikat sebagai perantara untuk menyampaikan wahyu yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman:

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syura: 51)

Manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah para Nabi. Maka apa yang dimaksud wahyu dalam ayat ini adalah informasi secara cepat ke dalam kalbunya (para Nabi) tanpa perantara siapa pun. Menurut al-Biqa’i wahyu disini dapat mencakup pemberian informasi tanpa perantara dan dengan cara yang tersembunyi. Ia dapat juga berbentuk ilham atau mimpi atau juga dengan cara lain, baik Allah menganugrahkan kepada yang menerima wahyu itu kemampuan mendengar—dan ini adalah peringkat tertinggi—atau juga disertai dengan pandangan maupun tidak.

Demikianlah sekelumit beragam definisi wahyu yang diungkapkan al-Quran dengan berbagai konteks pembahasannya, semoga bermanfaat serta menambah keimanan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya iman. Amiin

Sumber Tulisan:

Ibrahim El-Deed , Be a Living Quran

Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab

Tafsir Jalalain, Jalaludin al-Mahali, Jalaludin as-Syuyuti

Related Posts